Galeano old

 

Memasuki hari kedua proyek penerjemahan masa berkabung atas wafatnya Eduardo Galeano (3 September 1940-13 April 2015), saya beralih ke Trilogi ‘Memoria del Fuego’ (Memory of Fire), terbit pertama kali pada 1982.

genesisTiga buku seminalnya yang berisi ribuan kisah. Ya, kisah, sebab Edu menggabungkan kronik, catatan perjalanan, mosaik peristiwa, mitos lisan dari seluruh penjuru Amerika Latina, di setiap lembarnya. Menyebutnya sebatas ‘esai’, ‘prosa fiksi’, atau ‘penulisan sejarah’ tentu tidak memadai lagi.

Saya menerjemahkan lima kisah dari buku pertama trilogi tersebut,’Los Nacimientos’ (Genesis). Benang merah tiap-tiap cerita yang dipilih adalah nubuat serta awal penaklukan dunia baru. Pada mulanya adalah rasa kagum, lalu berlanjut dengan invasi pasukan kulit putih ke jantung kekuasaan Indian.

Periode penaklukan ini mendapat perhatian khusus dari Galeano. Pada permulaan ‘Genesis’, proto-Amerika Latin hadir lewat mitos yang terserak pada cerita lisan pelbagai suku Indian. Tapi Edu bagaimanapun mengakui, sejarah tulis benua ini baru benar-benar bermula setelah kedatangan pelaut Eropa.  Read More

Advertisements

eduardo-galeano-1

Saya banyak menimba ilmu dari esai-esai Eduardo Galeano. Edu, panggilan akrab sang penulis besar Uruguay itu, gemar menggabungkan bermacam gaya penulisan di tiap esainya. Dia enteng saja mengoplos fiksi, analisis politik, mitos, serta disiplin jurnalistik, di setiap tulisannya.

Sayang, tak satupun bukunya diterjemahkan buat pembaca Indonesia. Cuma segelintir esainya sempat dialihbahasakan oleh Ronny Agustinus, Halim HD, Mahfud Ikhwan, atau Darmanto Simapea.

Untuk itu, buat memperingati wafatnya Edu pada 13 April 2015 lalu, saya ingin menambah semarak penerjemahan esai-esai Galeano buat pembaca di Tanah Air.

Mulai dari postingan ini, sampai momen tujuh hari meninggalnya Edu nanti, diupayakan dua atau tiga terjemahan esainya – yang rata-rata pendek itu –  saya unggah ke blog ini.

Kalaupun hasilnya kurang memuaskan pembaca, apalagi saya tidak menguasai bahasa Spanyol, setidaknya izinkan saya egois agar blog ini tak lagi berdebu. Dan tentu saja, setiap kekeliruan tafsir atau hal-hal yang mengganjal atas terjemahan tersebut, sepenuhnya tanggung jawab saya.

Sebagai awalan, saya memilih karyanya yang paling personal:  El futbol a sol y sombra (Soccer in Sun and Shadow), terbit 1995. Versi yang saya pakai adalah terbitan ulang 2003 oleh Nation Books, dengan pemutakhiran beberapa esai, yang memuat tulisan tambahan mengenai Piala Dunia 2002.

Edu lebih banyak menulis soal memori negara-bangsa di Amerika Latin (atau negara-negara lain yang mengalami penjajahan). Formula yang mirip sebetulnya tetap dia pakai di buku ‘El Futbol’. Dia mewartakan bermacam penindasan, di balik gemerlap permainan ini ketika industri mengambil alih kendali.

Read More

“Sistem hidup kita saat ini menabalkan pemisahan: agar manusia-manusia yang dibungkam batal mengajukan pertanyaan, agar mereka yang dihakimi sepihak urung balas menggugat, agar menceraiberaikan yang sendirian sehingga gagal bersekutu, dan terutama, agar jiwa-jiwa terserak tidak membangun diri menjadi satu kesatuan” – Eduardo Galeano

Senyap 1

I.

Kutipan dari salah satu esai buku “The Book of Embraces” di atas mampir ke pikiranku selama menyaksikan “Senyap”.  Galeno menuliskannya sebagai pengingat, bahwa pembungkaman manusia disponsori negara selalu menimbulkan ekses yang lestari. Entah itu di Uruguay, Guatemala, Chile, Vietnam, hingga Indonesia.

Aku mengingat esai itu terutama saat muncul kesunyian berjarak antara kamera yang menyorot Adi Rukun, 44 tahun – tokoh utama dalam film dokumeter tersebut –  dengan televisi 20 inci menayangkan pengakuan degil para pembantai orang-orang dituduh komunis selama prahara 1965-1966.

Dari penciptaan jarak denotatif itulah, kita mengenal sang protagonis. Penonton “Senyap” mencerna cerita sembari menyaksikan eksistensi penonton lain, yaitu Adi. Bahasa gambar ini otomatis mempelebar jarak dari subyek yang dibicarakan. Saban adegan ini muncul, kita menerka apa yang ada di pikiran Adi menyaksikan pengakuan-pengakuan mengejutkan pembunuh kakak kandungnya.  Read More

This gallery contains 1 photo.

Aku ingat, saat itu kalender menunjuk tanggal 27 Februari 1969, bertepatan dengan Hari Raya Kurban. Aku menginjak usia 24. Sebagaimana biasanya setiap hari raya, sejak pagi rumah kami dipenuhi sanak keluarga. Mereka sengaja kami undang menghadiri santap siang. Saudara dekat maupun jauh sama saja, semua mengenakan pakaian terbaiknya. Bel di pintu tak henti-hentinya berdering. Ada …

Read More

592x342-video-terbaru-ayo-intip-dapur-film-tabula-rasa-140805l

Luka di tubuh dapat pulih seiring waktu, tapi bagaimana cara menyembuhkan jiwa yang remuk redam?

Sutradara Adriyanto Dewo bersama penulis skenario Tumpal Tampubolon, sebagai sosok kreatif di balik Tabula Rasa, menyodorkan alternatif jawabannya: Sembuhkanlah jiwamu lewat masakan minang nikmat, wabilkhusus yang diolah dari niat tulus.

Berbekal slogan “Film Kuliner Indonesia Pertama”, Tabula Rasa justru tak berpretensi menyajikan rangkaian pornografi panganan (food porn). Tidak ada unsur tasmaya memandang eksotis masakan etnis tertentu, tiada sedetikpun seruan “tambo ciek” setelah sepiring nasi dan rendang tandas, atau klise-klise yang biasa muncul dari tayangan kuliner di televisi. Langgam cerita Tabula Rasa mungkin agak asing buat generasi “mak nyus”.

Read More

This gallery contains 1 photo.

  Bola sang penendang kelima menembus sisi kanan gawang. Wasit meniupkan peluit, mengesahkan penalti itu, sekaligus mengumumkan usainya pertandingan. Lampu Stadion Lebak Bulus, Jakarta, belum lagi padam ketika belasan remaja bertempik sorak di atas lapangan rumput, berpelukan, bahagia. Terpisah ribuan kilometer di Pulau Ambon, emosi serupa terpancar dari seluruh manusia. Di masjid, gereja, lobi sekolah, …

Read More

This gallery contains 1 photo.

  Layar buat “Soekarno: Indonesia Merdeka” (2013) mulai turun satu persatu. Ambil contoh di Jakarta, tak ada lagi bioskop menayangkannya. Lantas apa yang tersisa dari salah satu film paling ambisius di Tanah Air ini? Berdasarkan aspek komersial, tim Multivision tak bisa dibilang gagal. Jumlah penonton film ini mencapai 921.931 orang, terlaris ketiga tahun lalu, di …

Read More