Semesta Sinematik Gatot

 

personel-dpo

 

“Satu-satunya hal yang diperlukan agar kejahatan merajalela adalah orang-orang baik yang memilih tidak berbuat apa-apa” – Edmund Burke

Sebaris kalimat pemikir politik Irlandia itu yang pertama kali menyambut penonton film “Detachement Police Operation/D.P.O” (2016). Film ini nyaris sebulan terakhir sebelum tayang lebih banyak diberitakan negatif akibat skandal pidana produser sekaligus pemain utamanya: Aa Gatot Brajamusti.

Munculnya kutipan Burke di permulaan film segera memicu serangkaian perenungan: Apakah ini pertanda Aa tahu sejak lama – “weruh sakdurunge winarah” dalam ungkapan Bahasa Jawa – bahwa dia akan ditangkap polisi, lantaran sobat-sobatnya tak sekalipun menasehati agar jangan keseringan pakai narkoba?

Mungkinkah kata-kata Burke dipinjam untuk mengkritik kondisi sosio-politik Indonesia kiwari di bawah rezim Jokowi, yang konon sedang dihimpit pelobi kepentingan Tiongkok dan Amerika Serikat?

Atau malah kutipan itu cara Aa menyindir pekerja industri film Indonesia – terutama yang niatnya berkarya sebaik mungkin – selama ini terlalu acuh berserikat, sehingga membiarkan dirinya menguasai Parfi?

Bagi yang belum nonton, jangan buru-buru gentar. Kutipan itu tak lantas membuat citarasa dunia sinematik Aa Gatot kehilangan ciri khasnya. Belio tidak mendadak putar haluan menggarap film arthouse.

Kendati begitu, dimaklumi bila muncul tudingan dari gerombolan Gilda Antifilm Jelek, bahwa kutipan ini sekadar upaya tim produksi “D.P.O” mempercanggih konteks di luar cerita. Bahasa lugasnya: membikin berat hal-hal yang tidak perlu. Ndakik-ndakik kosong belaka.

Saya ada di barisan pertama yang menolak tudingan tersebut. Mohon diingat bung dan nona, film-film yang memperoleh sentuhan langsung Aa Gatot, terutama saat dia terlibat sebagai produser, selalu punya aspirasi transnasional. Orang boleh saja menyebut film-film si Aa ajaib. Namun perulangan motif plot yang konsisten menandakan sang guru spiritual selebritis ini serius dengan pesan yang dia garap.

Tokoh utama cerita di film-film yang diproduseri si Aa selalu menghadapi sekaligus merespon persoalan lintas batas negara. Ceritanya memang berpijak di Indonesia, tapi ada kesadaran yang konsisten mengingatkan penonton bahwa Indonesia – dengan pelbagai persoalannya – tidak sendirian di dunia ini.

“Tanah Surga…katanya” (2012) mengangkat pergulatan hidup serta dilema ‘nasionalisme’ warga di perbatasan Indonesia-Malaysia. Selanjutnya tentu saja karya orisinil pertama si Aa: “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” (2013). Plot Azrax digerakkan terutama oleh aksi kejahatan terorganisir menyasar buruh migran Indonesia di Hong Kong, yang tentakelnya menjangkau hingga pelosok Jawa Barat, tempat tinggal Aa kesayangan kita semua itu. Dan kini melalui D.P.O, motif problematika lintas negara kembali muncul.

Semua persoalan dalam film aksi ini dipicu kedatangan seorang gembong kriminal asal Thailand, bernama Satam (mohon tidak mengaitkannya dengan jenis batu akik tertentu) diperankan aktor senior Torro Margens, yang karena fasih sekali bicara Bahasa Indonesia gaya prokem, memilih kabur dari kejaran Interpol ke Kampung Rawa Keling (RT 02/RW 03, harus lengkap ya).

Satam dalam waktu singkat menjadi tiran bagi warga lokal, sambil membangun ulang kerajaan bisnis haramnya di Indonesia. Sepertinya warga memilih tunduk gara-gara Satam memiliki entah koreng atau ingus kering nangkring di bawah lubang hidungnya. Koreng itu sungguh membuat jeri penonton, dan efek traumatisnya semakin terasa karena kamera kerap menyorot close up wajah Satam.

Di sela-sela jualan narkoba, Satam si penjahat bangkotan yang sayang dua anak lelakinya, mabuk kekuasaan lalu seenaknya menindas warga Rawa keling. Dia didukung ratusan centeng, yang sebetulnya warga kampung situ juga sih.

Misalnya saja, memerintahkan para centeng menggampar ibu-ibu yang tak sengaja menyentuh anak sulung Satam di jalan; mengambil alih pabrik penggilingan padi sebagai markas operasi sindikatnya; menampung pemadat dan membuat kumuh Rawa Keling, sampai-sampai pebisnis tower enggan datang. Akibatnya sinyal telepon selalu jelek di kampung itu; dan yang paling keji adalah mengatur jadwal piket preman-preman di pasar, mengawasi transaksi perdagangan sayur-mayur.

Sebuah contoh exploitation de l’homme par l’homme – eksploitasi, penindasan, pengisapan manusia oleh manusia yang lain – secara paripurna.

 

duh-korengnya

 

Bukan hanya dari sisi antagonis yang lintas negara. Protagonis D.P.O pun bersentuhan dengan jejaring yang tak cuma berkutat di Indonesia. Kapten Sadikin, jagoan utama yang mustahil diperankan selain oleh Aa Gatot, di film ini bekerja sama dengan sekian sosok asal luar negeri membongkar sindikat Satam.

Mulai dari Mr. Kwik, perwakilan Interpol dari Singapura, sampai perempuan berparas indo bernama Eva Vermon, diceritakan sebagai bekas WNI hendak bergabung dengan Kepolisian Amsterdam Belanda. Karena butuh mempercantik portofolio CV (laiknya persiapan melamar kerja di BUMN) akhirnya Eva magang dulu di Kepolisian RI jadi sekretaris pribadi seorang Komisaris Besar di Bareskrim.

Sebelum beranjak terlalu jauh, sebelum pembaca ulasan ini protes, ada baiknya kita mundur sejenak untuk mengurai karakter-karakter utama di cerita D.P.O.

 

Laga di Rawa Keling

 

Semua berawal dari penggerebekan transaksi narkoba, saat dini hari, di Kampung Rawa Keling. Dua detektif yang mengejar para pengedar tak sadar terjebak masuk labirin kampung kumuh. Detektif bernama David berusaha memanggil bala bantuan, tapi sinyal hapenya jelek betul malam itu (akan ada banyak adegan hilang sinyal di film ini). Alhasil dia terkepung anak buah Satam, lalu dihajar habis-habisan. Rekannya tewas digorok.

Puas menghajar David, para preman ini membawa sang detektif ke hadapan Satam, hanya untuk didamprat. “Kalau yang satu sudah dibunuh, ngapain yang ini dibawa ke sini, bunuh juga dong.”

Niat mereka dihambat oleh Oliver, anak sulung Satam yang lembut hatinya. “Jangan bunuh dia ayah, dia itu penegak hukum,” ujarnya sembari berteriak. Setelah ditoyor sedikit oleh bapaknya, Oliver langsung bungkam. Eksekusi berlangsung dramatis.

Jasad David mengambang di sungai Ciliwung, ditemukan kepolisian keesokan harinya. Sosok Kapten Sadikin muncul perdana di hadapan penonton, sebagai kepala pemeriksaan TKP. Tak ada lagi hair extension seperti Azrax. Rambut Aa sekarang pendek saja, demi menonjolkan sosok polisi macho. Sadikin terpana melihat anak buah sekaligus keponakannya itu teronggok tak bernyawa.

Lalu, adegan flashback ke rumah Sadikin, saat sang polisi jagoan ini sedang push up memakai penutup kepala malam-malam. Tiba-tiba masuk seorang ninja – yang ternyata David – menyerang si Aa. Namanya juga jagoan, Sadikin mudah saja menghajar balik si penyerang. Rupanya mereka berdua sekadar adu ilmu kanuragan saja tanpa ada niat saling melukai. Syukurlah.

Adegan baku hantam langsung berganti. David, selain mati di awal cerita, berperan menjadi figuran selama beberapa detik untuk menonjolkan kemampuan linuwih Sadikin.

Patut dicurigai olahraga sambil merem seperti dilakukan Aa Gatot akan jadi trend di Indonesia tahun depan.

Tak berapa lama setelah flashback, kita disuguhi salah satu pemandangan paling aduhai sepanjang durasi 100 menit film ini: kaos putih menerawang Sadikin yang jelas menampilkan lekuk teteknya. Hhhhhhh…..

Di sudut atas, kita melihat foto Sadikin berpose bersama macan yang diawetkan. Sepertinya itu macan yang tempo hari ditemukan polisi saat menggerebek rumah Aa Gatot. Apakah macan ini penting dalam cerita? Tentu saja tidak. Tapi ini macan lho. Siapa sih yang tidak suka melihat macan berpose bareng om-om di sebuah foto?

Sambil berjalan dengan baju menerawang – with that GLORIOUS TETEK!!!- melintasi rumahnya yang mewah untuk ukuran seorang kapten polisi, sosok Sadikin masih terganggu oleh tewasnya David. Pembunuhan itu sampai menghantui Sadikin dalam tidurnya. Jagoan ini terbangun di kasur, lalu terpaksa ditenangkan oleh istrinya yang bahenol dan tidak pernah mengucapkan sepatah dialog pun dari awal sampai akhir cerita.

Dari hasil perenungannya, Aa Sadikin melapor ke Kombes Ramadan, sang atasan. Dia minta izin membentuk satuan khusus rahasia untuk menyelidiki pembunuhan detektif David.

“Tapi itu melanggar prosedur Sadikin,” kata Ramadan.

“Tidak apa-apa pak, saya akan mengumpulkan orang-orang terbaik,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Begitulah. Senyuman Aa Sadikin meluluhkan hati komandannya seketika. Si Aa tampak senang idenya di-acc, kemudian menggoda sekretaris pribadi Kombes Ramadan di luar ruangan. Aseekk.

Tak berapa lama kita bertemu deretan anggota tim dadakan yang dibentuk Sadikin. Mereka semua adalah anggota polisi, bekas polisi, sampai pembunuh bayaran, yang dulu punya utang budi pada si Aa.

Mereka terdiri dari Julie, polisi wanita yang gemar menembak jambret di tengah pasar sekadar buat sport. Kemudian Ganta, playboy cap duren tiga perebut bini orang, suka dugem di tempat karaoke pinggiran tapi rupanya jago berkelahi. Keduanya tanpa pikir panjang segera menyetujui ajakan Aa Sadikin bergabung dalam tim khusus tersebut.

Aa lalu mampir ke pedalaman tanah Pasundan, yang ternyata memiliki gelaran ajang tarung bebas mirip MMA, melibatkan uang taruhan besar. Si petarung jagoan, namanya Tatang, adalah calon rekrutan DPO selanjutnya. Walaupun wajahnya gahar dia teh sayang keluarga. Seperti Julie dan Ganta, Tatang segera bilang iya pada ajakan Sadikin.

Terakhir, kita bertemu Andy. Bekas pemain sirkus yang mahir melempar pisau dan hobi handstand di tepi atap apartemen. Andy sepertinya tinggal di New York, tapi ini sekadar tebakan ya, soalnya penggambaran suasana di sekitar gedung pakai CGI. Siapa tahu Andy ini pelanggan kedai kopinya Rangga.

Tim rahasia ini berkumpul di rumah Aa Sadikin, merancang persiapan operasi. Dan penonton segera tahu bahwa tidak ada sama sekali yang rahasia dari operasi tersebut. Tersedia mobil hardtop dengan stiker Detachement Police Operation mencolok sebagai kendaraan mereka.

Hasil rapat tim, diputuskan menyelidiki Kampung Rawa Keling untuk menguak kasus pembunuhan David. Tapi karena di situ banyak warga sipil dan khawatir jatuh korban tak berdosa, tim melakukan upaya preventif: membawa senjata api sebanyak-banyaknya, plus belasan belati buat membacok orang.

“Kapten, Rawa Keling adalah area slum. Sebaiknya kita memeriksa kampung itu siang hari,” kata Julie. Ya, penjahat memang keliaran siang hari, bukan malam-malam. Pelajari ini para penulis skenario lainnya. Kalian semua klise!!!

Maka tim DPO segera beranjak ke Rawa Keling. Sasaran pertama pengintaian mereka, sambil membawa senjata api, adalah: PASAR.

Kapten memerintahkan Julie memantau situasi. “Capt, terlihat tiga orang preman memakai baju bebas mondar-mandir di sekitar pedagang. Kita harus memperingatkan warga sipil untuk menghindar.”

Bahaya betul. Sejak kapan preman tak lagi memakai seragam seperti Pemuda Pancasila dan FBR? Semangat tim DPO, jangan menyerah. Ganbatte!

Sayang, mata-mata Satam memergoki gelagat mencurigakan Julie yang mengendap-endap bawa pistol di tengah pasar. Rencana untuk tidak melibatkan warga sipil buyar. Film kemudian beralih menjadi 45 menit aksi laga nonstop.

Masing-masing anggota DPO menunjukkan keahlian membunuh yang efisien. Sendok saja bisa dipakai membacok mata para preman. Saya lihat sang sutradara debutan, L.M Belgant, berambisi menyaingi dosis kekerasan seri ‘The Raid’ dengan visual efek murah meriah. Menilai dari riuhnya tepuk tangan para #SahabatAzrax yang nonton di bioskop, kekerasan itu tampaknya diterima lapang dada.

 

 

korban-tim-dpo

 

Di salah satu adegan, kapten Sadikin sampai harus menghibur Tatang, yang tercenung melihat tangannya berlumur darah puluhan preman kampung. “Tenang, kamu tidak salah. Yang salah itu Satam karena mempengaruhi mereka,” kata Sadikin, demi membesarkan hati anak buahnya yang telah menjadi pelaku pembantaian massal.

Saya punya adegan favorit di tengah intensitas laga, yakni saat Sadikin mengingatkan tim DPO menjaga kekompakan. “Kita jangan sampai meninggalkan anggota lainnya, kita harus selalu bersama,” ujarnya. Beberapa detik kemudian, Sadikin memerintahkan timnya dipecah jadi dua. Ntab!

Bukan cuma para jagoan yang menonjol dalam adegan laga film DPO. Penjahatnya pun beraneka rupa. Ada sosok pria madura seram yang membawa sabit ke sana ke mari. Serangannya mematikan.

Juga muncul pengendara motor yang dulunya atlet tong setan, tapi kemudian banting setir gabung ke sindikat Satam. Sepanjang adegan baku hantam, dia mondar-mandir keliling gang sempit di kampung sambil senyam-senyum. Peran belio tampaknya mirip gitaris pasukan Immortan Joe di film “Mad Max: Fury Road”. Raungan motor RX King-nya bermanfaat meningkatkan moral kroco-kroco Satam saat bertarung melawan DPO.

Tim DPO sempat bertemu rombongan pemadat. Mereka yang sedang teler mengisap ganja, kaget melihat polisi, memohon tidak dipenjara. “Tenang, anda semua tidak akan ditangkap, anda hanya akan direhab,” kata Julie, menyitir amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Kejahatan Narkotika.

Tak berapa lama, pentolan kelompok Satam menghasut rombongan pemadat ikut menyerang DPO dengan iming-iming uang. Yaelah, mereka mau padahal angkanya tidak disebut, apakah dua kali UMR DKI atau berapa. Pengkhianat busuk.

Di tengah kekacauan, muncul dua sosok anak kecil yang membuat tugas DPO bertambah. Satu bernama Eddward, alias Eddie. Ganta hendak melindungi Eddie yang keluyuran di tengah baku tembak. “Hati-hati dik di sini berbahaya.”

Lha si bocah malah lari. “Eh, dasar sialan,” umpat Ganta. Kurang ajar memang anak itu. Ternyata Eddie adalah anak Satam yang psikopat. Berbeda dari kakaknya Oliver yang pasifis, Eddie menyukai kekerasan. Dia enteng saja membunuh pria dewasa gara-gara tidak diberi kalung. Dasar bocah bedebah!!!

Satu bocah lainnya adalah yatim piatu bernama Luca. Bocah ini terusir setelah rumahnya diambil alih gerombolan Satam. Luca yang dendam kesumat, bukannya kabur malah memilih kelayapan di Rawa Keling, memandu Kapten Sadikin melewati rute jalan tikus supaya tim tak perlu bertemu para preman kroco.

Agar tidak capek nonton adegan laga, penonton diajak rehat sejenak oleh sutradara melihat Kombes Ramadan, bersama Eva, dan Mr Kwik, melakoni adegan penting: makan siang.

Di tengah perjalanan, Tuan Kwik kejang-kejang setelah meminum air mineral di laci dasbor mobil Kombes Ramadan. Anggota Interpol itu meregang nyawa dengan mulut berbusa di kursi penumpang.

Untunglah, peristiwa mengejutkan ini disikapi bijaksana oleh Kombes Ramadan. “Baiklah, saya akan menelepon ambulans dan memanggil bantuan,” kata polisi berkumis itu. Karena Kombes Ramadan dan Eva kelamaan menunggu ambulans di dalam mobil, Kwik akhirnya ko’it duluan. Innalilahi wa inna ilaihi rajiun.

Eva mengingatkan si kombes mengenai situasi gawat ini. “Pak, kalau tuan Kwik ternyata tewas diracun bisa kita duga penjahat sebenarnya mengincar anda.”

“Jangan terburu-buru, biarlah nanti penyidik yang menentukan penyebab kematian di TKP,” kata Ramadan.

“Lah, kan TKP-nya di mobil elu tong,” sahut penonton di sebelah saya.

Tapi yasudahlah ya. Penonton jangan “kebanyakan protes kayak LSM”, pinjam ucapan Mamang si penjahat utama film Azrax.

Perkelahian kembali berlanjut di adegan berikutnya. Ini adalah scene-scene yang hemat saya, akan dikenang dalam sejarah sinema Indonesia. Tim DPO dan preman Rawa Keling baku pukul maghrib-maghrib. Besar kemungkinan demi menghemat anggaran syuting. Namanya juga maghrib, hampir tidak keliatan apa-apa di layar. Sat set bat bet. Trus ada yang mati aja pokoknya lah.

Klimaks terjadi, ketika tim DPO menghadapi anak buah terkuat Satam di lokasi adiluhung: Pabrik Penggilingan Padi. Kapten Sadikin mengalami dilema, ketika mengetahui istrinya sudah diculik Satam. Dia murka sambil membuang seragam, tinggal pakai kaos dalam. Anda semua tahu, ketika jagoan sudah menyisakan singlet doang, artinya tak ada lagi main-main.

Omong-omong, berbeda dari Azrax yang relatif lurus-lurus saja plot tiga babaknya, DPO disajikan agak memutar.

Sebelum final showdown antara Sadikin vs Satam terjadi, media massa menyoroti operasi penyerbuan DPO di kampung Rawa Keling. Tindakan Kapten Sadikin dituding seorang penyiar televisi sebagai serangan bermotif pribadi, hanya karena keponakannya tewas.

Polisi dianggap tidak bertugas sesuai prosedur, dan memicu jatuhnya korban sipil. Wah dalem banget dilema moralnya, mirip film-film Nolan.

Penulis skenario film ini, debutan bernama Rusli Rinchen, patut disorot. Dia tana ragu mematikan karakter anak-anak sampai perempuan. Langkah berani untuk ukuran plot film Indonesia.

Selain itu, di film ini ada beberapa subplot serta twist-twist mengejutkan yang terlalu sayang kalau dibocorkan. Ketika film berakhir, ada after-credit scene ala-ala Marvel menunjukkan otak kejahatan yang asli masih bercokol di luar sana. Menghebohkan.

Hanya saja, ada yang harus dibayar dari film yang jelas sekali kekurangan budget ini. Sebagian besar durasi berupa adegan laga tangan kosong. Tidak ada lagi pertunjukan spektakuler seperti di Azrax, misalnya Aa Gatot naik sepeda motor menembaki sebuah mobil sampai meledak.

Kekurangan lain D.P.O adalah ketiadaan antagonis mumpuni. Di Azrax, kita punya sosok mamang yang sangat mengejutkan. Azrax tak bisa sekadar mengandalkan otot belaka. Dia harus adu argumen tentang kondisi sosial bisnis buruh migran, perlindungan WNI, dan macam-macam isu lainnya saat menghadapi mamang.

Sedangkan sosok Satam di DPO tak punya kelebihan lain kecuali koreng di hidung itu. Alhasil, Sadikin Cs hanya perlu mengandalkan ilmu kanuragan untuk membereskan masalah.

Bagaimanapun, di balik semua kritik membangun yang saya tulis, DPO membuktikan keunikan Aa Gatot dalam tradisi film cult Indonesia. Hal yang belum bisa dicapai sineas sekaliber KK Dheeraj atau Damien Dematra.

Meski sutradara dan penulis skenarionya beda, kekacauan di film DPO sama belaka seperti Azrax. Bahkan beberapa kosagambar DPO lebih canggih dari Azrax, misalnya angle tembak-tembakan, serta shot-shot time lapse Jakarta untuk memperpanjang durasi.

Artinya sentuhan kreatif dan trademark Aa Gatot berhasil dijaga secara berkesinambungan, walau budgetnya dipangkas.

 

Yang Berbeda Dari Gatot

 

Saya menduga, seandainya tak ada kasus kriminal yang menjeratnya beberapa waktu lalu, Aa Gatot berpotensi sukses membangun semesta sinematiknya sendiri. Hollywood punya MCU dan DCEU yang terbukti menjadi mesin uang sukses. Nah, di Indonesia, Aa Gatot merintis jalan agar karya-karyanya berbeda dan punya ciri khas, tapi masih punya benang merah. Contohnya adalah sisipan pesan moral dan penekanan pada sosok si Aa yang karismatik. Strateginya berhasil, melahirkan segerombolan penggemar fanatik dalam bentuk #SahabatAzrax.

Sayang, DPO hampir pasti menjadi film terakhir dari belio. Padahal tim Brajamusti Film dan Putaar Film terlihat yakin  memproduksi sekuelnya. Tetap semangat a’, terus kreatiflah di penjara.

Sinema Indonesia tidak pernah kekurangan pasokan film kelas B maupun cult. Istilah disebut belakangan itu merujuk film-film absurd, mengundang nostalgia spesifik, ataupun saking jeleknya malah berkesan bagi penonton.

Satu dekade belakangan, yang cukup menonjol adalah Genderuwo (2007) arahan KK Dheeraj yang sukses membuat saya tertawa lahir batin. Tentu posisinya dalam hierarki cult versi saya segera digantikan oleh Azrax.

Karya besutan Aa Gatot sangat menyita perhatian dibanding film-film bermutu sejenis. Terutama, karena jarang sekali ada penonton yang terhibur menyaksikan film-film Gatot hanya demi melecehkan keburukannya. Ini hal yang perlu digarisbawahi.

Aldo, salah satu penonton yang saya temui di bioskop, punya penjelasan menarik tentang bias khususnya terhadap karya-karya si Aa. “Kalo nonton film kacrut lain itu masih keliatan niat pembuatnya supaya dianggep serius. Jadinya kita malah emosi. Sementara filmnya Aa gatot berhasil bikin kita engga mikir begituan,” kata member resmi ormas #SahabatAzrax ini.

 

sadikin

 

Saya jelas bukan pembela perilaku belio di luar urusan film, tapi saya ingin bilang Aa Azrax menyumbang amal jariyah yang jarang diketahui publik. Bahkan si Aa sepertinya tidak sadar sumbangsihnya sendiri.

Kapan lagi sih sebuah film di bioskop mainstream sampai membuat penonton ngumpul, biarpun tak saling kenal, demi membahas adegan per adegan? Itulah yang terjadi selepas saya datang ke pemutaran film D.P.O di bioskop Blok M Square. Diskusi dadakan digelar penuh antusiasme. AADC 2 saja tak mampu mengilhami para penggemarnya bertindak serupa.

Bisa dibilang, seandainya masing-masing kutub ekstrem sinema kita berujung pada Damian Dematra-Asrul Sani, maka Gatot berada di luar itu semua.

Filmnya mengingatkan penonton bahwa, ya ini sekadar film. Hiburan eskapis yang sebetulnya lumrah membengkokkan logika. Gatot dan tim produksinya tak pernah ragu membengkokkan nalar ke lekukan terjauh. Hasilnya gabungan inkompetensi teknis film, ditambah keberanian main-main yang membahagiakan, berkesan, dan justru membuat penonton peduli padanya.

Apalagi setelah Rhoma Irama pensiun dari dunia sinema, terjadi kekosongan ikon; tak ada lagi karakter santun, agamis, tapi tetap ‘badass’ yang mewarnai layar perak kita: sebuah negara mayoritas muslim dengan demografi warna-warni. Aa mengisi ceruk kosong itu di lanskap industri pascareformasi.

Aa Gatot mengobati kerinduan kita pada sebuah film yang “fun” tanpa malu-malu mengakui segala kekurangannya. Film yang berani menyasar semua jenis segmen penonton. Ada yang tertawa karena ketololannya yang jujur atau kehadiran pesan moral ambigu, sebagian lainnya benar-benar terhibur oleh kesederhanaan plot dan adegan laganya.

“Sebuah film cult harus memiliki dunia yang lengkap, sehingga penggemar dapat merujuk adegan-adegan tertentu, membangun trivia-trivia dan tebakan, sampai ada seseorang menjadi ahli tentangnya,” tulis Umberto Eco.

Syarat-syarat itu sudah dipenuhi oleh Azrax dan D.P.O. Suka tidak suka, semesta sinema Gatot berani mengundang siapapun mampir.

Dan anda hampir pasti akan tersesat di dalamnya.

 

Advertisements
7 comments
  1. Yenni Saputri said:

    hilarious review! *dari tadi nahan ketawa karena bacanya di kantor :))

    • Ardyan M. Erlangga said:

      Waa, makasih kak sudah baca. Film Aa untuk kita semua!

  2. Ando said:

    Canggih mas tulisannya, saya terpukau hingga lupa kerjaan kantor. Menurut prediksi mas Ardyan akankah AA Gatot terus “besar’ hingga sekaliber Danny Trejo???

    • Ardyan M. Erlangga said:

      Hmmm, saya sih pengennya gitu juga. Tapi kasus tempo hari bikin dia hampir pasti ga akan bisa bikin film lagi, soalnya semua investor pasti sedang gamau deket-deket sama belio. Sayang banget. T_T

      Btw, skenario paling mungkin adalah dia bikin roadshow Azrax+DPO selepas keluar dari penjara, kayak sutradaranya The Room gitu deh. Pasti banyak #SahabatAzrax yang mau datang.

  3. Diluar isi film yang (tampaknya) sangat menggelitik. Saya suka sekali dengam cara penulisan sampeyan yang detail, namun jenaka.

    Youve got one new subscriber 🙂

    • Ardyan M. Erlangga said:

      Wah, trims sudi mampir bung. Saya sedang memaksa diri menulis untuk blog yang sudah penuh jaring laba-laba.

      • Tampaknya jaring laba laba jadi problem umum untuk blogger mas. Saya pun begitu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: