Seni menurut Galeano

galeano-guatemala-uruguay-guatevision

Terjemahan kali ini adalah akhir dari ‘Sepekan Mengenang Galeano’ (14-20 April). Saya bertanya pada diri sendiri. “Jadi apa yang membuat Eduardo Galeano patut dikenang?”

Bagi saya, Edu membuka mata bahwa batas dari prosa adalah segala kemungkinan. Edu menempatkannya persis di antara batas paling kaku (karya akademis) dan sisi bahasa paling murni (puisi).

Selain itu, Edu selalu punya sikap dalam prosa-prosanya. Dia tidak pernah menulis diiringi rasa ragu. Tema-tema yang dipilih selalu menyangkut ketertindasan, seringkali kekalahan, tapi sekaligus menegaskan, tidak ada yang sia-sia dari perjuangan manusia.

Dari sisi teknis, Edu adalah maestro prosa yang dirangkai dalam bentuk sketsa pendek. Tentu, di abad 140 karakter, gaya tulisannya terasa pas. Tapi bukan itu poinnya.

Dibanding penulis-penulis besar Amerika Latin lainnya, Galeano satu-satunya yang terobsesi pada efisiensi. Tentu kita bisa mengatakan bahwa prosa-prosanya kurang mendalam. Betul. Tapi kesuksesannya bertutur hanya dalam 200 kata, menyindir penulis muda manapun yang sangat kendor menjelaskan sesuatu.

Terakhir, bagi saya, Edu – seperti juga Pramoedya – mengingatkan pentingnya penulis menjalankan tugas-tugas kronika sejarah. Cerita manusia, yang telah terentang ribuan tahun, adalah sumber ilham yang tak akan putus.

Pendek kata, di akhir pekan mengenang wafatnya Gaelano, saya menerjemahkan pandangan-pandangannya soal seni dan apa sebetulnya tugas penulis. Semuanya diambil dari ’The Book of Embraces’.

Terima kasih, untuk semuanya, maestro.

Selamat membaca!

========================

Merayakan Subyektivitas

Aku menulis ‘Memoria del Fuego’ dalam waktu cukup lama. Semakin aku menulis, semakin diriku terisap ke dalam cerita-cerita tersebut.

Ada satu titik yang mana aku sempat kesulitan membedakan masa kini, masa lalu, apa yang sedang terjadi di luar sana, dan apa yang sebetulnya sedang aku alami.

Tulisan-tulisan itu seakan hidup dan merengkuh segala-galanya dalam diriku.

Dan, suatu saat aku tersadar, tulisan mengenai sejarah seharusnya tidak subyektif.

Aku sampaikan dilemaku pada Jose Coronel Urtecho. Kubilang padanya, di buku itu aku menulis maju mundur dari sisi periode waktu, sikapku kentara sekali, dan apa yang kusuka maupun kubenci, tertuang jelas dalam tulisan.

Keluh kesahku itu kusampaikan di tepi Sungai San Juan. Penyair tua ini lalu memberi jawaban. Menurutnya, aku tak perlu resah pada tuntutan soal obyektivitas.

“Tak perlu kau resah,” ujarnya.

“Mereka yang menempatkan obyektivitas seperti iman sebetulnya pembohong besar. Mereka takut menyaksikan derita manusia. Mereka bukannya ingin obyektif. Sebaliknya, mereka berhasrat menjadi obyek, sehingga tak perlu merasakan penderitaan.”

========================

Bersatunya Hati dan Pikiran

Untuk apa seseorang menulis, selain merangkai suatu idel yang terserak di sana-sini?

Tapi keterserakan dan keterpisahan adalah kodrat di masa kita.

Ketika seseorang memasuki sekolah, memasuki tempat ibadah, dia diajari untuk memilah-milah segala sesuatu.

Pendidikan – apapun bentuknya – mengajarkan cara menceraikan hati dan pikiran manusia.

Untuk itulah aku berterima kasih pada para nelayan dari pantai Kolombia. Mereka mengajarkanku etika dan moralitas lebih dari siapapun.

Para nelayan itu menciptakan kata ‘sentipensante’, artinya secara harfiah: merasa sambil berpikir. Mereka memakai kata itu untuk menjelaskan apa arti kebenaran.

Untuk Siapa Aku Menulis?

Aku menulis untuk mereka yang tak bisa membaca tulisan-tulisanku: orang-orang terbuang. Orang-orang yang selama berabad-abad tak bisa menyambangi sejarah, tidak sanggup mengeja aksara, dan yang tak bisa membeli sebuah buku.

Ketika aku mulai pongah dengan apa yang sudah kukerjakan, maka aku akan selalu mengingat pelajaran penting soal pentingnya seni dari peristiwa di panggung teater di Kota Assisi, Italia.

Aku dan istriku – Helena – menyaksikan pentas pantomim di gedung itu. Tidak ada orang lain di barisan kursi penonton, kecuali kami berdua.

Ketika lampu dipadamkan, penjual tiket dan manajer teater menemani kami di bangku penonton. Walau lebih banyak orang di panggung daripada yang menyaksikannya, para aktor itu tampil bagaikan sedang berada dalam pentas yang disesaki penonton.

Mereka benar-benar mencurahkan seluruh hati sepanjang pentas. Apa yang mereka tampilkan menyentuh hatiku.

Ketika pentas berakhir, kami berempat bertepuk tangan, memecah keheningan di gedung teater. Kami bertepuk tangan seakan hidup berakhir esok hari.

========================

Tiupan Angin

Angin selalu bertiup di dalam diriku.

Aku pada dasarnya selalu telanjang. Aku bukan tuan siapapun, juga tidak menjadi hamba sesiapa.

Aku pun tak pernah menjadi tuan dari keyakinanku sendiri.

Pada dasarnya, Aku adalah pribadi yang ditiup angin, melawan embusannya, sekaligus, aku adalah angin yang menerjang diriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: