Cerpen (tak terlalu pendek) Galeano

Galeano jus

Untuk hari keenam ‘Sepekan Mengenang Galeano’ (14-20 April), saya menerjemahkan satu cerpennya dari ‘Dias y Noches de Amor y de Guerra’ (Days and Nights: Love and War). Terbit pada 1978, buku ini lebih fokus bercerita awal-awal pengalamannya menjadi eksil politik. Mayoritas kisahnya bertempat di Uruguay, Argentina, serta ngarai-sungai-hutan di perbatasan kedua negara.

Dibanding buku-bukunya yang lain, cukup banyak pula kisah dalam memoar ini yang memakai bentuk cerita pendek. Ketika Edu semakin matang (yang berarti minatnya lebih pada mengumpulkan ribuan arsip sejarah dunia), bentuk cerpen mulai ditinggalkan. Tulisan-tulisan Edu berganti sketsa-sketsa, kronik, atau sekalian cerita superpendek. Dengan begitu, menerjemahkan cerpennya yang relatif langka, tentu sangat penting.

Selamat membaca!

======================

Sang Buronan

 Days and NightsHari masih sangat muda, ketika lelaki yang diburu pemerintah bertemu pelacur di kedai pinggiran Montevideo. Saat matahari mulai tinggi, si buronan bangun tidur di ranjang wanita itu.

Pelacur itu membuatkannya kopi. Mereka minum dari gelas yang sama. Sambil menyeruput kopi, pria ini memperhatikan kebiasaan wanita itu menggigt jemarinya. Tangannya sangat lentik, indah seperti milik gadis belum akil baligh.

Sepanjang hari mereka tak bercakap-cakap. Setelah beberapa saat, pria ini kembali mengenakan pakaian.

Lelaki itu berusaha keras mencari kata-kata yang tepat. Intinya, dia tak memiliki uang untuk membayar jasanya. Tanpa menengok ke arahnya, si pelacur berkata:

“Aku tak tahu siapa namamu. Tapi jika kau mau tinggal di sini, tinggalah. Rumahku tak jelek-jelek amat kan.”

Lelaki itu memutuskan tinggal.

Selama lelaki itu menumpang di rumah sang pelacur, tak sekalipun dia pernah ditanya mengapa datang ke kota ini. Si buronan juga enggan mencari tahu apa asal-usul perempuan itu.

Wanita itu selalu pergi di malam hari untuk bekerja. Sang buronan tak pernah meninggalkan rumah.

Bulan demi bulan berlalu.

Suatu pagi, sang pelacur mendapati kamar lelaki itu sudah kosong. Di bantal, tertinggal selembar kertas.

“Aku ingin membawa salah satu tanganmu yang indah itu, tapi aku tak punya nyali. Sebagai gantinya, izinkan aku mengambil salah satu sarung tanganmu. Maafkan aku. Selamat tinggal. Beribu-ribu terima kasih untuk semuanya.”

Dalam pelarian, sang buronan pulang ke Argentina. Dia memakai paspor palsu.

Tapi nasibnya buruk. Polisi rahasia mencokok si buronan setibanya di Buenos Aires.

Lelaki ini sudah dicari setahun terakhir di seantero Argentina. Tentu seandaiya dia tetap di Montevideo, nasibnya tak berakhir di tangan polisi.

Sang kolonel yang memimpin tim perburuan para aktivis, melampiaskan rasa kesalnya pada si lelaki yang berhasil kabur setahun penuh. Saban hari dia dihajar, dimaki-maki. Pada satu saat, sang kolonel merasa terlalu lelah untuk menghajar dan memakinya sekaligus. Ditariknya kerah si buronan.

“Kau akan memberitahuku semuanya. Jelaskan di mana kau bersembunyi, siapa yang melindungimu, heh!”

Sang buronan terlalu lelah, bahkan sekadar untuk berbohong. Dia jelaskan kalau beberapa bulan terakhir dia tinggai di Montevideo bersama seorang perempuan.

Tapi sang kolonel tidak percaya. Sebelum dihajar lagi, si lelaki teringat pernah mengambil foto wanita itu, yang disimpan di dompet. Dia sodorkan kepada sang kolonel: gambar seorang perempuan di bibir kasur, tanpa sehelai benang, tangannya menyentuh leher, rambut hitam menjuntai menutupi dadanya. Matanya sama sekali tak melihat kamera.

“Ini wanita yang kubilang tadi,” kata lelaki buronan itu kepada sang kolonel. “Aku tinggal bersamanya selama di Montevideo.”

Sang kolonel terdiam sesaat. Dia pandangi lekat-lekat foto yang disodorkan itu. Tiba-tiba saja serapah keluar dari mulut perwira ini, sambil tangannya menggebrak meja.

“Lonte pengkhianat. Dia akan dapat balasan setimpal. Tunggu saja!”

Saat itulah, lelaki buronan menyadari bahwa perempuan yang menampungnya ada di pihak Argentina. Sejak awal.

Rumahnya dirancang untuk menampung para pelarian yang kabur ke Uruguay.

Dan ketika sang kolonel terus mengeluarkan kata-kata kotor, si lelaki buronan teringat kata-kata wanita itu, suatu siang, selepas mereka bercinta habis-habisan.

“Kau tahu, aku tak pernah merasakan kesenangan seperti ini dengan lelaki lain… Mungkin lebih tepatnya, otot-ototku jauh lebih bergairah saat melakukannya denganmu.”

Si lelaki ingat, kata-kata itu meluncur dari wajah yang tampak sayu. Ada bayang-bayang menggantung di sudut mata wanita itu. Dan dia sadar apa maksud perkatannya setelah sekian lama.

“Sudah seharusnya kegembiraan semacam ini terjadi kan, cepat atau lambat,” kata wanita itu setelah hening beberapa saat. “Kita tinggal menunggu orang yang tepat. Ketika itu terjadi, aku harus pasrah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: