Getirnya kopi di Amerika Latin

galeano-café
Malam minggu, buat beberapa orang wajib dilalui sembari menyeruput kopi bersama kawan. Dari yang murah meriah sampai satu cangkir seharga dua kali makan siang di restoran elit Jakarta.

Komoditas satu ini punya sejarah panjang. Tak hanya memicu kenikmatan, tapi juga kepedihan. Manusia di Nusantara pernah mengalami penderitaan luar biasa ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda memaksa petani menanam kopi sepanjang 1830-1870.

Di abad 20, manusia Amerika Latin masih mengalami penistaan besar akibat tata niaga kopi yang diatur oleh AS dan Eropa. Situasi ini terekam dalam esai Eduardo Galeano  di bukunya paling terkenal ‘Las venas Abiertas de America Latina’ (1971). Buku yang di dunia Barat dikenal dengan tajuk ‘Open Veins of Latin America’ ini segera laris manis setelah mendiang Hugo Chavez menghadiahkan satu eksemplarnya buat Obama pada 2009.

Saya pikir buku ini belum kehilangan relevansinya, sekalipun Edu pada jumpa pers di Brasil tahun lalu mengaku malu membaca lagi tulisan-tulisan di bukunya itu. “Ketika itu saya belum menguasai betul pengetahuan soal ekonomi politik.” 

Kini, setelah Kuba sudah diundang ke KTT Amerika ke-7, toh tata niaga komoditas di seluruh dunia masih tak banyak berubah dibanding satu abad lampau. Termasuk di dalamnya mekanisme penentuan harga kopi, minyak mentah, dan banyak bahan baku lainnya.

open veinSaya pikir, sudah saatnya menerjemahkan satu (dari empat) esai soal kopi di buku itu untuk hari kelima program ‘Sepekan Mengenang Galeano’ (14-20 April) yang bertepatan dengan momen malam minggu. Esai ini pun tampaknya cocok dibaca kapanpun buat menemani saat anda menyeruput secangkir kopi.

Satu lagi alasan lainnya, telaah kritis Edu atas proses tata niaga kopi jelas lebih dulu ditulis sebelum buku Anthony Wild ‘Coffee: A Dark History’ terbit pada 2005.

‘Las Venas…’ sangat berbeda metode penulisannya dibanding karya-karya Edu era 1980-an.

Edu masih menempatkan diri sebagai jurnalis selama penggarapan ‘Las Venas…’, belum sepenuhnya tukang cerita. Tapi kesadaran untuk membahasakan laporan-laporan jurnalistik ke dalam bahasa tutur populer kentara sekali. Adanya nuansa amatir atau pandangan yang terlalu emosional di banyak esai justru nilai tambah buku ini. ‘Las Venas…’ adalah saksi dari perkembangan Edu sebagai seorang intelektual.

Saat ‘Las Venas..’ terbit, Edu mungkin belum matang. Tapi dia berada di posisi yang sama seperti sejarawan kritis Howard Zinn, atas keengganannya menulis data-data sejarah dalam bahasa obyektif. Dan kesaksiannya tentang pengalaman menjadi umat bangsa terjajah tentu tetap valid sampai kapanpun.

Buku yang dia tulis selama 90 hari tanpa absen ditemani bergelas-gelas kopi ini bertujuan menjembatani kajian ilmiah penindasan Amerika Latin – sejak kedatangan Columbus hingga berkuasanya rezim-rezim diktator sayap kanan – yang pernah dibahas sejarawan, ekonom, dan sosiolog, “dalam kemasan yang mudah dinikmati siapapun.”

Kopi hanya salah satu dari ‘urat nadi’ bumi Amerika Latin yang tersayat kolonialisme fisik maupun ekonomi. Aroma ketidakadilan di balik nikmatnya kafein dapat dicium siapa saja, termasuk kita yang hidup di Indonesia.

Selamat membaca. Semoga kopimu tak terasa lebih pahit di lidah.

=================================

Kisah cintamu ditentukan oleh kopi

Apa sebetulnya makna kopi buat manusia? Apakah serupa kabel listrik yang dipasang di kepala pasien rumah sakit jiwa? Benarkah kopi hadir di dunia untuk mengukur tingkat kesehatan jiwamu?

Pada 1889, satu kilogram kopi-kopi Amerika Latin dihargai dua sen. Enam tahun kemudian, harganya naik jadi sembilan sen. Tiga tahun berikutnya harga anjlok lagi jadi empat sen. Berselang lima tahun, harga kembali seperti pada 1889.

Gonjang-ganjing harga itu sebetulnya selalu berulang. Kalau grafik harga kopi seabad diamati, nasibnya sama belaka dengan komoditas khas negara tropis manapun.

Naik turunnya harga kopi selalu kambuh setiap saat, apalagi jika nilainya dibandingkan dengan impor alat mesin dan produk-produk industri.

Presiden Kolombia Lleras Restrepo pada 1967 menyuarakan protes di pertemuan internasional, setelah negaranya harus membayar satu unit mobil jip impor setara 57 sak biji kopi mentah. Padahal satu dekade sebelumnya, 17 karung biji sudah bisa menebus mobil yang sama.

Keluhan senada juga disuarakan Menteri Pertanian Brasil Herbert Levi. Kasus Brasil lebih dramatis. Traktor pada 1960-an ditebus 350 sak biji kopi, ketika 14 tahun sebelumnya cuma senilai 70 karung bahan baku minuman nikmat itu.

Kopi pula yang bikin Presiden Getulio Vargas memaksa peluru menembus kepalanya sendiri. Dalam catatannya sebelum bunuh diri, Vargas mengatakan, “Krisis pada bisnis kopi datang dan hasil produksi anjlok. Kami ingin harga tetap tinggi, tapi harga yang harus dibayar adalah gonjang-ganjing ekonomi. Kami terpaksa menyerah.”

Vargas berharap kematiannya bisa menghindarkan rakyat Brasil dari nasib buruk.

Demikianlah sejarah berulang. Pada 1964, harga kopi Amerika Latin dijual di pasar Amerika Serikat memakai acuan harga 1955. Dalam kondisi normal, Brasil seharusnya menerima USD 200 juta. Tapi karena harga anjlok satu persen saja, berarti mereka kehilangan pemasukan USD 65 juta lantaran hanya menjual biji mentah.

Ketika harga terus anjlok sepanjang 1964-1968, siapa yang diuntungkan sebetulnya? Masyarakat peminum kopi? Yang pasti bukan petani.

Dan ketika petani di negara produsen seperti Brasil pada periode itu lintang pukang akibat anjloknya harga, para peminum kopi di AS justru membayar tiap cangkir mereka lebih mahal 13 persen. Padahal harga kopi siap seduh di Brasil 30 persen lebih murah dibanding di Negeri Abang Sam.

Artinya, keuntungan komoditas kopi sepanjang 1964-1968, katakanlah 43 persen, masuk kantong tengkulak.

Pertanyaannya, tentu saja, siapa para tengkulak itu?

Enam konsorsium asal AS mengendalikan distribusi sepertiga hasil produksi kopi dunia. Sementara Brasil, dan enam negara lain menguasai sepertiga lainnya. Mereka semua sama-sama harus menjual hasil buminya itu ke pasar Amerika.

Dari hilir ke hulu bisnis kopi Amerika Latin, hampir pasti, ada campur tangan Amerika.

Kelakuan tengkulak kopi Amerika ini mirip sepak terjang United Fruits yang memonopoli penjualan pisang dari kawasan Amerika Tengah, Kolombia, serta Ekuador. Raksasa bisnis dari Negeri Adi Daya itu merayah jaringan impor dan distribusi sekaligus.

Dalam kasus kopi, Brasil jelas-jelas berperan sebagai pemasok dan korban dari perdagangan yang tak adil.

Pemerintah Brasil pun akhirnya sibuk menjadi pemadam kebakaran. Setiap kali harga anjlok, maka negara membeli produksi petani yang berlebih dalam harga normal, menyimpannya ke badan logistik. Berharap-harap cemas harga bisa merayap naik yang entah kapan datangnya.

Omong-omong, bukan kah ada Perjanjian Kopi Internasional yang mengajak setiap negara anggotanya menjaga stabilitas harga pasaran? Menilik dokumen dari Pusat Informasi Kopi Dunia di Washington D.C yang terbit pada 1970, disebutkan bahwa legislatif menyetujui usulan pemerintah agar isi perjanjian ditaati hanya sampai September tahun itu.

Lebih jauh lagi, dokumen ini menyatakan perjanjian tersebut haruslah menguntungkan Amerika sebagai konsumen separuh produksi kopi dunia.

Dengan demikian, aturan soal harga bisa kita simpulkan akan selalu menguntungkan mereka yang berperan sebagai pembeli.

Sementara di AS, sebetulnya kenaikan harga secangkir kopi masih di terjangkau ongkos bulanan rata-rata warga. Ketika kopi terjangkau bagi para penikmatnya – karena nilai impor turun – kita tahu negara-negara Amerika Latin harus menikmati keuntungan sambil lalu, yang nantinya juga harus diputar lagi buat membeli produk-produk AS yang harganya jauh lebih mahal.

Maka kita harus sadar, di masa kini, menyeruput kopi lebih menguntungkan daripada menanam bijinya.

Bangsa yang asyik menyeduh kopi, seperti Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, justru berhasil meraup banyak keuntungan dan mengakumulasi modal lebih besar dibanding produsen kopi di Amerika Latin.

Jaringan bisnis warung kopi menyediakan 600 ribu lapangan kerja di awal 1970. Bakul kopi itu menikmati keuntungan lebih besar dibandingkan petani Brasil, Kolombia, Guatemala, El Salvador, hingga Haiti yang banting tulang di perkebunan saban hari sampai masa panen.

Aturan pajak Eropa pun mempertajam situasi yang sudah timpang sejak awal. Pajak barang impor atas komoditas kopi Amerika Latin, menghasilkan USD 700 juta untuk anggota Zona Ekonomi Eropa. Sedangkan negara pengekspor cuma memperoleh USD 600 juta.

Dari angka-angka ini, akal sehat kita seharusnya mengakui bahwa perdagangan bebas jauh panggang dari api. Negara maju, sampai kapanpun, akan terus menggelar kebijakan perdagangan proteksionis dengan bermacam dalih. Hasilnya, apapun yang mereka santuh menjadi emas, sementara yang tersisa bagi bangsa-bangsa lain sebatas onggokan sampah.

Lebih lucu lagi ketika negara penghasil justru dipengaruhi untuk menetapkan pajak ekspor besar dengan dalih mengurangi potensi lonjakan harga di pasar internasional, ketika produksi berlebih. Ujung-ujungnya, produsen AS yang paling untung dari kebijakan tersebut.

Bisnis kopi – pendek kata – adalah sebuah kerajaan dikelola dengan logika serba absurd. Puncaknya, bisa kita saksikan ketika petani dengan sadar membakar jutaan ton biji kopi yang sudah mereka tanam dengan keringat serta doa.

Pada 1969, ketika panen raya kopi ‘berlebihan’ dan harga internasional anjlok, 60 juta sak kopi di Brasil dianggap tak berharga lagi. Padahal nilainya setara dua pertiga utang Brasil yang terlanjur menggelar operasi pasar buat mengatasi turunnya harga di kalangan petani.

Membakar kopi yang kadung ditanam bukan sekali dua kali terjadi. Pada 1929, krisis serupa memaksa petani-petani Brasil membakar 78 juta sak kopi. Kerja keras 200 ribu orang selama lima kali masa panen, dihargai dalam wujud abu.

Ini adalah krisis yang wajar terjadi pada masa penjajahan, bukan atas kemauan para petani. Lho, bukankah kita sudah merdeka sekarang?

Hancur leburnya petani kopi di Brasil pada 1930, turut mempengaruhi nilai tukar mata uang. Karena, seperti ekonomi negara berkembang lainnya, komoditas andalan anjlok sama dengan merosotnya kualitas mata uangmu.

Lucunya, ketika harga naik beberapa tahun kemudian, harkat petani juga tak kunjung membaik. Ini misalnya dialami Kolombia pada 1958, ketika petani sempat terlalu bergairah menanam kopi di banyak tempat gara-gara melihat harga merambat naik. Dalam hitungan hari, harga langsung anjlok ketika tengkulak (hingga pialang pasar komoditas yang necis) menyatakan ‘produksi terlalu melimpah’.

Di Kolombia, sudah biasa didengar anekdot orang menikah seturut musim tanam kopi. Ini benar-benar terjadi di Kota Antiqoia yang menjadi sentra kopi utama.

Saat harga sedang bagus, anak-anak muda memberanikan diri membina rumah tangga. Kalau pasar sedang hancur, mereka sadar diri untuk melajang lebih dulu.

Demikianlah kenyataan struktur ekonomi yang zalim: Kapan kau patut menyatakan cintamu sampai ditentukan oleh Bursa Saham New York.

*Dinukil dari Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent edisi khusus 25 tahun terbitan Monthly Review Press (1997), halaman 98-101.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: