Bermain dengan almanak Galeano

Eduardo-Galeano-630x434

Setelah tiga hari sebelumnya menyambangi karya-karya klasik Eduardo Galeano, kini saya ingin mengalihbahasakan ceritanya tanpa dibatasi oleh kriteria atau tema tertentu.

Dengan demikian, pilihan paling pas adalah menerjemahkan ‘Los Hijos de los dias’ (Children of the Days: A Calendar of Human History), terbit 2013. Buku ini merupakan karya terakhir Galeano sebelum wafat pada 13 April lalu di usia 74.

‘Los Hijos…’ disusun dalam bentuk almanak. Isinya kalender setahun penuh. Di setiap tanggal anda bisa membaca momen penting – versi Galeano – yang terjadi pada saat itu dan patut diriwayatkan.

Sejak terbitnya ‘Espejos’ (2008), tema cerita Galeano berskala global. Dia masih menulis soal ketidakadilan, penindasan, dan upaya manusia melawan segala represi secara bermartabat.  Bedanya, sumber cerita-cerita itu bukan lagi sekadar data sejarah di Amerika Latin dan Eropa, melainkan sudah menjangkau tiga benua lainnya.

Gara-gara baca buku ‘Los Hijos…” (dan buku-buku Edu lainnya) saya iseng membayangkan, seandainya dulu Pramoedya bersedia menulis rangkuman pendek-pendek datanya yang menggunung itu memakai strategi Galeano. Dipecah dalam kronik, almanak, dan cerpen-cerpen serbapendek.

Yah, kini memang tugas penulis muda sajalah, memikirkan cara supaya riset Pram nyaris setengah abad soal Benua Maritim Nusantara tak sia-sia.

children

Lepas dari itu, membaca ‘Los Hijos…’ tentu tidak perlu seajeg ‘Las venas abiertas de America Latina’ (1971) yang rigid membedah akar ketimpangan di Benua Amerika Latin.

Namanya saja almanak, silakan dibuka mana suka. Persis seperti itulah metode saya memilih lima cerita untuk edisi ‘Sepekan Mengenang Galeano’ (14-20 April) kali ini.

Saya pakai kalender besar satu tahun dari kantor. Sambil menutup mata, saya coret beberapa tanggal pakai spidol. Hasilnya, saya memperoleh urutan berikut: 17 Januari, 1 April, 30 Mei, 13 Juli, 8 Oktober.

Saya baca cerita di setiap tanggal yang terpilih itu di ‘Los Hijos…’, dan terkejut melihat hasilnya.

Walau esai-esainya di usia senja semakin pendek, Edu belum kehilangan kemampuan bertutur. Tak hanya mengandalkan seabrek data ensiklopedis, dia tetap mengedepankan kepekaan, humor, maupun ironi. Sehingga rangkaian data-fakta dalam almanak ini, berhasil menyentuh wilayah peka manusia.

Selamat membaca!

=============================

17 Januari

Manusia yang mengeksekusi Tuhan

Pada 1918, di tengah gegap gempita gerakan revolusioner yang baru menguasai Ibu Kota Moskow, Anatoly Lunacharsky memimpin sidang mengadili Tuhan.

Di kursi terdakwa diletakkan sebuah Alkitab.

Jaksa menyatakan kesalahan yang ditanggung Injil – atas segala ajarannya – sangat berat.

Sepanjang sejarah, Tuhan dituding melakukan kejahatan yang tak terhitung lagi pada umat manusia. Pantaslah bila Yang Maha Kuasa diadili agar memperoleh balasan setimpal.

Pengacara Alkitab menyerang balik jaksa. Dia mengingatkan kalau Tuhan mustahil dibawa ke meja hijau lantaran kondisi yang tidak memungkinkan. Konon Tuhan sedang lemah pikir.

Pada akhirnya, majelis hakim menetapkan vonis buat Tuhan: hukuman mati.

Beberapa jam setelah sidang, di tanggal ini, ketika hari mulai petang, senapan mesin ditembakkan ke udara. Isi lima magazin dikuras agar jaksa sukses mengeksekusi surga.

=============================

1 April

Uskup Perdana

Pada tanggal ini, 1553, Pedro Fernandes Sardinha menjejakkan kaki pertama kalinya di Brasil. Dia menjadi uskup pertama Eropa bertugas di pedalaman dunia baru.

Tiga tahun setelah kedatangannya, di sisi selatan Alagoas, Suku Caete menyantap Uskup Sardinha saat makan siang.

Sebagian orang Brasil menilai nasib tragis sang uskup cuma bualan orang kulit putih. Itu adalah alasan yang dicari-cari supaya militer leluasa menyerang orang-orang Caete, merampas tanah mereka, dan memusnahkan seluruh anggota suku Indian itu dalam panji ‘Perang Suci’.

Sebagian lagi lebih rileks menyikapinya. Ini jenis orang Brasil yang meyakini – sedikit banyak – kematian Uskup Sardinha menginspirasi secara tidak langsung lahirnya kuliner nasional: tumis ikan sarden.

=============================

30 Mei

Menuju Altar

Tepat pada hari ini, 1431, perempuan berusia 19 tahun dibakar hidup-hidup di depan halaman Pasar Rouen, Normandia, Prancis.

Dia meniti tangga panggung eksekusi sambil mengenakan jubah yang bertuliskan:

Kafir

Bidah

Pemuja Berhala

Setelah tubuh perawan itu tandas dimakan api, abunya dibuang dari atas jembatan ke aliran Sungai Seine. Warga ingin dia enyah jauh-jauh, tak boleh ada sejumput abu tertinggal.

Gereja Katolik dan Kerajaan Prancis berkomplot menistanya.

Gadis itu bernama Jeanne d’Arc.

=============================

13 Juli

Gol Abad Ini

Organisasi sepakbola paling top di muka bumi, hari ini tahun 2002, menggelar survei. Responden diminta menentukan ‘Gol Abad Ini’.

Berbekal dukungan nyaris mutlak, yang terpilih adalah gol Diego Maradona pada perempatfinal Piala Dunia 1986. Sebelum menceploskan bola ke gawang, sang maestro menari, sembari memaksa bola lengket di kakinya, melewati enam pemain Inggris yang cuma bisa terpada menyaksikan keajaiban.

Proses gol yang indah itu merupakan pemandangan terakhir bagi Manuel Alba Olivares.

Saat pertandingan bersejarah itu digelar, Manuel masih 11 tahun. Tepat setelah gol indah Maradona, dia tak lagi bisa melihat. Gol Maradona itu dia simpan baik-baik dalam ingatan.

Manuel bisa menceritakan cara Maradona menghabisi Inggris, lebih baik dari komentator manapun.

Manuel, hingga dewasa, tetap mencintai sepakbola. Bahwa menikmati sepakbola paling paripurna adalah dengan menyaksikannya langsung, menggunakan mata kepala sendiri, itu tak penting lagi. Toh, Manuel bisa meminjam mata sobat-sobatnya.

Teman-teman itu pula yang mendukung Manuel mendirikan klub sepakbola. Di klub itu, dia menjadi pemilik, pelatih, sekaligus komentator di siaran radio setiap pertandingan anak asuhnya. Begitulah cara Manuel menjalani hidup.

Di kala senggang, Manuel mengisi waktu menjadi pengacara.

=============================

8 Oktober

Tiga orang ini

Pada 1967, Che Guevara terpojok di tubir jurang Quedabra del Yuro oleh 170 orang pasukan pemerintah. Bersama 11 gerilyawan Bolivia yang menyertainya sampai akhir, sang revolusioner menyerahkan diri. Che dieksekusi keesokan harinya.

Pada 1919, Emiliano Zapata ditembak mati di Meksiko.

Pada 1934, Augusto Cesar Sandino dibantai di Nikaragua.

Tiga orang itu menemui ajal di tanggal yang sama.

Tiga orang itu mati di usia yang tak jauh beda, hanya beberapa bulan sebelum resmi 40 tahun.

Tiga orang ini dihukum mati, karena berusaha menciptakan sejarah, bukannya membebek dan mengulang tradisi, seakan nasib adalah warisan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: