Kronik empat kota dari Galeno

eduardo-galeano(1)

Sebagai penulis gaya ‘oplosan’, cukup wajar bila Eduardo Galeano membuat memoar yang kurang lazim. ‘El Libro de los abrazos’ (The Book of Embraces) sekilas tak masuk kategori otobiografi (dan tetap nyeleneh dibanding memoar sejenis).

Buku yang terbit pertama kali pada 1989 ini sangat sedikit bercerita soal sosok Edu dan perjalanan hidupnya. Boro-boro mengglorifikasi masa muda seperti buku-buku purnawiran TNI yang naudzubillah narsisnya itu.

Edu lebih banyak menceritakan sahabat-sahabatnya, mural yang dia lihat di pelbagai kota seluruh dunia, mitos-mitos yang pernah dia dengar sambil lalu, sampai kritik terhadap kapitalisme dan rezim otoritarian.

Sesekali dia menyelipkan puisi dan prosa liris, yang entah bagaimana, tetap selaras dengan tema keseluruhan buku ini. Alhasil, kita tetap bisa memahami siapa sosok Edu – pikiran-pikiran dan amal baktinya – sesudah tuntas membaca ratusan cerita di dalamnya. Persis seperti tujuan setiap memoar manapun.Embraces

Buat saya, bagian kronik-kronik kota ‘El Libro de los abrazos’ jadi seri cerita paling menonjol. Sebagai eksil yang kabur dari kejaran rezim militer Urugay, Edu dipaksa ‘melancong’ ke banyak negara, banyak kota. Tapi untuk menceritakan ulang setiap lawatan itu, dia jarang memakai formula klise ‘mulai dari destinasi paling menarik dari sebuah kota’. Tidak banyak pula pendekatan seorang flanerie ala Baudelaire.

Imaji kota ala Edu kerap dihadirkan melalui rentetan peristiwa. Percakapan dengan bekas gerilyawan, cerita soal pengalaman naik bus, atau diwawancara oleh wartawan televisi.

Kronik paling indah di buku ini (‘Kronik Kota Havana’) sudah diterjemahkan oleh Ronny Agustinus, masuk dalam kumpulan cerita superpendek Amerika Latin, ‘Matinya Burung-Burung’, terbitan Moka Media (2015). Silakan baca bukunya, keren lho. Bung Ronny juga menukil bagian ‘Kronik Kota Meksiko’ yang bisa anda baca di sini.

Pada masa-masa awal terbitnya ‘El Libro de los abrazos’, kronik kota ala Edu boleh disebut terobosan menarik buat genre ‘warta kelana’ (saya terus mencari padanan paling memuaskan untuk travel writing).

Maka pada hari ketiga proyek sepekan mengenang wafatnya Edu (14-20 April), saya menerjemahkan empat cerita tentang kota, dan tentu saja, manusia yang menghidupinya.

Selamat membaca!

==========================

Kronik Kota Buenos Aires

Pertengahan 1984, aku melawat ke River Plate. Saat itu tepat 11 tahun setelah aku tak lagi menginjakkan kaki di Montevideo; delapan tahun dari terakhir kali bermukim di Buenos Aires.

Aku minggat dari Montevideo karena tak sudi menjadi tahanan. Sedangkan alasan enyah dari Buenos Aires, lantaran aku masih ingin hidup.

Pada 1984, rezim diktator militer Argentina sudah tumbang, walaupun masih terserak jejak darah dan kenistaan yang sulit dihapus di banyak tempat. Di tahun itu pula, rezim diktator Uruguay tinggal sejengkal lagi dilengserkan.

Aku tiba di Buenos Aires tanpa mengabari rekan-rekan seperjuangan. Aku ingin reuni dengan mereka terjadi spontan.

Hari-hari pertama di kota ini, sobat wartawan televisi asal Belanda memintaku melayani wawancara di depan pintu yang dulunya tempat tinggalku ketika mukim di Buenos Aires.

Wartawan itu menanyakan kabar lukisan yang biasanya digantung di dinding rumah. Sebuah lukisan Pelabuhan Montevideo. Kapal-kapal di gambar itu semuanya sedang merapat, tak ada yang mengangkat sauh.

Aku membayangkan lukisan ini bercerita tentang pelabuhan yang hanya menyambut kedatangan, tanpa ada seorang pun mengucap perpisahan.

Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan si wartawan itu sambil memperhatikan titik merah dari kameranya. Kukatakan padanya, setelah kabur, tak jelas lagi di mana lukisan tersebut berada. Pun demikian nasib pelukisnya, sobatku sejak masih di Uruguay dulu, Emilio Casablanca. Julukannya si keling.

Aku kehilangan lukisan itu dan segala kenangan tentang Emilio, di sela-sela kabut yang mengiri pelarian. Kabur dari masa penuh teror dan kesepian.

Di tengah wawancara, aku menyadari sekelebat bayang-bayang berlalu di belakang kamera dan titik merahnya itu. Bayangan ini lalu diam menunggu di pojokan. Selepas proses rekaman berakhir, aku melongok ke arah bayangan tadi. Aku melihat wajahnya. Wajah yang sangat kuhafal.

Di kota yang disesaki 13 juta jiwa, entah bagaimana aku bisa bertemu Emilio si keling, tepat saat wawancara itu, di tempat yang dulu pernah kusebut rumah. Mungkin ini yang dinamakan takdir.

Kami saling berpelukan tak terkendali. Emilio lantas bercerita, dua minggu sebelum aku tiba di Argentina, dia mulai bermimpi. Intinya aku akan pulang. Tiap malam dia mengimpikan hal yang sama.

Dia tidak percaya bahwa rangkaian mimpi tadi sebuah pertanda. Pada malam sesudah reuni tanpa sengaja tersebut, Emilio menelepon hotel tempatku menginap.

Dia ingin aku meyakinkannya, bahwa dia tak sedang bermimpi, apalagi berhalusinasi.

==========================

Kronik Kota Caracas

“Aku cuma mau ketemu orang yang bersedia mendengar keluhanku!”

Semua mata melirik pada lelaki yang berteriak itu.

“Dari kemarin aku selalu diberi tahu datang lagi besok!”

Dia copot bajunya. Tak berapa lama, kaus kaki dan sepatnya ikut tanggal.

Jose Manuel Pereira berteriak, sembari berdiri di papan kayu, di ujung tembok lantai 18, salah satu gedung pencakar langit Caracas.

Polisi berusaha meringkusnya, tapi gagal.

Seorang psikolog diundang untuk mengajak Jose Manuel ngobrol dari jendela terdekat.

Belakangan romo kondang diikutsertakan untuk mengajaknya kembali mengingat Gusti Allah.

“Sudah cukup, semua orang selalu memberi janji palsu. Aku muak!”

Teriakannya tak kunjung reda.

Lelaki yang galau itu bisa dilihat banyak orang dari jendela restoran sisi selatan gedung. Tangannya menyentuh dinding, tubuhnya membelakangi jalanan.

Saat sosoknya bikin geger, orang-orang tengah makan siang. Sontak tindakan nekat Jose Manuel jadi perbincangan di setiap meja makan.

Di bawah gedung, orang-orang mulai berkerumun.

Enam jam berlalu.

Orang-orang bosan melihat Jose Manuel terus nangkring tanpa kejelasan.

“Jadi dia maunya apa?” seru pria yang kebetulan lewat.

“Kenapa enggak lompat saja sih, buang-buang waktu,” kata penonton yang lain.

Seorang pemadam kebakaran mengulurkan tali dekat tempat Jose Manuel berpijak. Awalnya, lelaki galau ini mengabaikan uluran tali itu.

Entah mengapa, beberapa saat kemudian dia coba meraih tali. Setelah erat memegang tambat tadi, Jose Manuel berayun ke lantai 16.

Dengan satu tangan berpegangan di tali, tangan Jose Manuel yang lain coba membuka sebuah jendela. Saat itulah pegangannya lepas. Jose Manuel meluncur ke trotoar. Suara tubuhnya menghempas jalanan bagaikan ledakan bom.

Lalu kerumunan pun bubar. Tukang es krim keliling, bakul hot dog, serta pedagang bir dan soda yang mangkal di dekat gedung selama beberapa jam sebelumnya, satu per satu melanjutkan perjalanan masing-masing.

==========================

Kronik Kota Managua

Aku diundang makan malam oleh Commandante Tomas Borge. Sebelumnya aku tak pernah bertemu gerilyawan kesohor itu.

Dari semua petinggi Sandinista, Tomas dikenal sebagai yang paling tangguh, paling bengis. Tanya saja siapapun yang tahu sepak terjang Sandinista, pasti gemetar saat ada yang menyebut namanya.

Di meja, pada malam pertemuan, ada banyak orang selain kami berdua. Semuanya sosok yang luar biasa. Sepanjang jamuan, Tomas tak bicara sepatah kata pun.  Dia menatap wajahku lekat-lekat selama beberapa kali.

Pada pertemuan kedua, kami kembali makan malam, tapi berdua saja. Tomas lebih terbuka kala itu. Dia bersedia menjawab setiap pertanyaan yang memaksanya mengenang permulaan Sandinista angkat senjata.

Tengah malam, seperti lazimnya orang yang berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi tak mau jujur mengatakan isi pikirannya, dia berkata:

“Baiklah. Ceritakan padaku sebuah film,”

Aku berusaha mengelak. Kukatan bahwa beberapa bulan terakhir aku tinggal di Calella, kota kecil yang bioskop saja jarang buka. Kalaupun ada pemutaran selalu film klasik yang itu-itu saja.

“Ya sudah tak apa,” ujarnya sedikit memaksa, suaranya bernada memerintah.

“Ceritakan padaku film apa saja, tak soal walaupun bukan film terbaru.”

Akhirnya, aku ceritakan satu film komedi yang kuingat. Kuperagakan beberapa adegan paling kocak. Niatku cuma menceritakan inti ceritanya saja. Siapa sangka, Tomas terus menanyakan hal-hal detail dari film tersebut.

Pada akhirnya, rangkuman film komedi itupun berakhir.

“Lagi dong.”

Terbersit padaku film gangster yang endingnya jelek bukan main. Sama seperti sebelumnya, setelah nyaris mengungkap seluruh plot, celotehanku pun rampung.

“Film lainnya dong.”

Lalu kuceritakan padanya sebuah film koboi.

“Ayo, cerita lagi.”

Kali ini kusampaikan film cinta. Supaya tambah dramatis, aku pun memeragakan beberapa adegan sambil melibatkan kain.

Lalu aku tersadar sudah masuk waktu subuh. Aku sampai memohon agar diizinkan istirahat, lalu segera rebah di kasur.

Aku kembali bertemu Tomas sepekan kemudian. Dia meminta maaf telah memaksaku menceritakan bermacam-macam film.

“Bung, aku kadung memerasmu habis-habisan di malam itu. Maaf, itu karena aku sangat kecanduan film. Aku tergila-gila dan sepertinya akan selalu begitu.”

Kubilang pada Tomas, tak perlu minta maaf. Antusiasmenya bisa dipahami. Dia saat itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Nikaragua, di tengah perang saudara pula. Sudah pasti musuh-musuh yang mengintai tak menyisakan banyak waktu untuk kemewahan bernama sinema.

“Oh, bukan begitu bung,” sergahnya. “Soal waktu untuk nonton film, aku punya… Aku selalu punya waktu. Waktu bisa dibikin longgar. Dulu, waktu aku masih aktif bergerilya, bahkan ketika tiap pertemuan harus sembunyi-sembunyi, aku selalu bisa mlipir nonton film kok. Tapi sekarang…”

Aku tidak berusaha menyelanya. Dia tiba-tiba diam dalam jeda lumayan panjang.

“Aku tidak bisa nonton film lagi sekarang… karena aku selalu menangis di akhir cerita.”

“Ah, begitu rupanya bung,” sahutku. “Aku juga sering menangis gara-gara film.”

“Oh, kalau itu aku sudah tahu sejak awal bung,” jawab Tomas cepat.  “Begitu melihat wajahmu, aku langsung membatin, ‘Ini nih pria yang juga mewek kalau nonton di bioskop.’”

==========================

Kronik Kota Rio

Tengah malam di Rio de Janeiro, Patung Kristus Penebus mengamati lanskap kota dari atas Bukit Corcovado. Sosoknya bercahaya, sementara tangannya merentang, menebarkan kasih.

Keturuanan para budak, yang keleleran di jalan, numpang tidur saban hari di bawah naungan tangan-Nya.

Seorang wanita tanpa alas kaki berjalan gontai mendekati patung raksasa itu. Dia mendongak ke bagian wajah Kristus Penebus yang jauh di atas sana, berpendaran cahaya. Wanita itu berucap lirih.

“Dia tidak bisa berada di sini lama-lama. Aku dengar mereka mau membawanya pergi.”

“Jangan khawatir,” sahut perempuan tunawisma lain di sebelahnya. “Kalaupun Dia pergi, nanti akan kembali.”

Terlalu banyak manusia dibunuh polisi di kota ini. Lebih banyak lagi yang mampus dihajar ekonomi. Tetabuhan pesta dan suara tembakan bergema, bersahut-sahutan di kota yang berkalang kekerasan.

Tapi ada alasan tambur dimainkan lebih sering dibanding alat musik lainnya. Setiap dentuman memberi penghiburan dari rasa benci dan dendam kesumat. Ini cara warga memanggil tuhan-tuhan nenek moyang, yang dulu mukim di Afrika.

Sebab, Kristus yang sendirian memang tidak bisa diandalkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: