galeano-guatemala-uruguay-guatevision

Terjemahan kali ini adalah akhir dari ‘Sepekan Mengenang Galeano’ (14-20 April). Saya bertanya pada diri sendiri. “Jadi apa yang membuat Eduardo Galeano patut dikenang?”

Bagi saya, Edu membuka mata bahwa batas dari prosa adalah segala kemungkinan. Edu menempatkannya persis di antara batas paling kaku (karya akademis) dan sisi bahasa paling murni (puisi).

Selain itu, Edu selalu punya sikap dalam prosa-prosanya. Dia tidak pernah menulis diiringi rasa ragu. Tema-tema yang dipilih selalu menyangkut ketertindasan, seringkali kekalahan, tapi sekaligus menegaskan, tidak ada yang sia-sia dari perjuangan manusia.

Dari sisi teknis, Edu adalah maestro prosa yang dirangkai dalam bentuk sketsa pendek. Tentu, di abad 140 karakter, gaya tulisannya terasa pas. Tapi bukan itu poinnya.

Dibanding penulis-penulis besar Amerika Latin lainnya, Galeano satu-satunya yang terobsesi pada efisiensi. Tentu kita bisa mengatakan bahwa prosa-prosanya kurang mendalam. Betul. Tapi kesuksesannya bertutur hanya dalam 200 kata, menyindir penulis muda manapun yang sangat kendor menjelaskan sesuatu.

Read More

Galeano jus

Untuk hari keenam ‘Sepekan Mengenang Galeano’ (14-20 April), saya menerjemahkan satu cerpennya dari ‘Dias y Noches de Amor y de Guerra’ (Days and Nights: Love and War). Terbit pada 1978, buku ini lebih fokus bercerita awal-awal pengalamannya menjadi eksil politik. Mayoritas kisahnya bertempat di Uruguay, Argentina, serta ngarai-sungai-hutan di perbatasan kedua negara.

Dibanding buku-bukunya yang lain, cukup banyak pula kisah dalam memoar ini yang memakai bentuk cerita pendek. Ketika Edu semakin matang (yang berarti minatnya lebih pada mengumpulkan ribuan arsip sejarah dunia), bentuk cerpen mulai ditinggalkan. Tulisan-tulisan Edu berganti sketsa-sketsa, kronik, atau sekalian cerita superpendek. Dengan begitu, menerjemahkan cerpennya yang relatif langka, tentu sangat penting.

Selamat membaca!

Read More

galeano-café
Malam minggu, buat beberapa orang wajib dilalui sembari menyeruput kopi bersama kawan. Dari yang murah meriah sampai satu cangkir seharga dua kali makan siang di restoran elit Jakarta.

Komoditas satu ini punya sejarah panjang. Tak hanya memicu kenikmatan, tapi juga kepedihan. Manusia di Nusantara pernah mengalami penderitaan luar biasa ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda memaksa petani menanam kopi sepanjang 1830-1870.

Di abad 20, manusia Amerika Latin masih mengalami penistaan besar akibat tata niaga kopi yang diatur oleh AS dan Eropa. Situasi ini terekam dalam esai Eduardo Galeano  di bukunya paling terkenal ‘Las venas Abiertas de America Latina’ (1971). Buku yang di dunia Barat dikenal dengan tajuk ‘Open Veins of Latin America’ ini segera laris manis setelah mendiang Hugo Chavez menghadiahkan satu eksemplarnya buat Obama pada 2009.

Saya pikir buku ini belum kehilangan relevansinya, sekalipun Edu pada jumpa pers di Brasil tahun lalu mengaku malu membaca lagi tulisan-tulisan di bukunya itu. “Ketika itu saya belum menguasai betul pengetahuan soal ekonomi politik.”  Read More

Eduardo-Galeano-630x434

Setelah tiga hari sebelumnya menyambangi karya-karya klasik Eduardo Galeano, kini saya ingin mengalihbahasakan ceritanya tanpa dibatasi oleh kriteria atau tema tertentu.

Dengan demikian, pilihan paling pas adalah menerjemahkan ‘Los Hijos de los dias’ (Children of the Days: A Calendar of Human History), terbit 2013. Buku ini merupakan karya terakhir Galeano sebelum wafat pada 13 April lalu di usia 74.

‘Los Hijos…’ disusun dalam bentuk almanak. Isinya kalender setahun penuh. Di setiap tanggal anda bisa membaca momen penting – versi Galeano – yang terjadi pada saat itu dan patut diriwayatkan.

Sejak terbitnya ‘Espejos’ (2008), tema cerita Galeano berskala global. Dia masih menulis soal ketidakadilan, penindasan, dan upaya manusia melawan segala represi secara bermartabat.  Bedanya, sumber cerita-cerita itu bukan lagi sekadar data sejarah di Amerika Latin dan Eropa, melainkan sudah menjangkau tiga benua lainnya. Read More

eduardo-galeano(1)

Sebagai penulis gaya ‘oplosan’, cukup wajar bila Eduardo Galeano membuat memoar yang kurang lazim. ‘El Libro de los abrazos’ (The Book of Embraces) sekilas tak masuk kategori otobiografi (dan tetap nyeleneh dibanding memoar sejenis).

Buku yang terbit pertama kali pada 1989 ini sangat sedikit bercerita soal sosok Edu dan perjalanan hidupnya. Boro-boro mengglorifikasi masa muda seperti buku-buku purnawiran TNI yang naudzubillah narsisnya itu.

Edu lebih banyak menceritakan sahabat-sahabatnya, mural yang dia lihat di pelbagai kota seluruh dunia, mitos-mitos yang pernah dia dengar sambil lalu, sampai kritik terhadap kapitalisme dan rezim otoritarian.

Sesekali dia menyelipkan puisi dan prosa liris, yang entah bagaimana, tetap selaras dengan tema keseluruhan buku ini. Alhasil, kita tetap bisa memahami siapa sosok Edu – pikiran-pikiran dan amal baktinya – sesudah tuntas membaca ratusan cerita di dalamnya. Persis seperti tujuan setiap memoar manapun. Read More

Galeano old

 

Memasuki hari kedua proyek penerjemahan masa berkabung atas wafatnya Eduardo Galeano (3 September 1940-13 April 2015), saya beralih ke Trilogi ‘Memoria del Fuego’ (Memory of Fire), terbit pertama kali pada 1982.

genesisTiga buku seminalnya yang berisi ribuan kisah. Ya, kisah, sebab Edu menggabungkan kronik, catatan perjalanan, mosaik peristiwa, mitos lisan dari seluruh penjuru Amerika Latina, di setiap lembarnya. Menyebutnya sebatas ‘esai’, ‘prosa fiksi’, atau ‘penulisan sejarah’ tentu tidak memadai lagi.

Saya menerjemahkan lima kisah dari buku pertama trilogi tersebut,’Los Nacimientos’ (Genesis). Benang merah tiap-tiap cerita yang dipilih adalah nubuat serta awal penaklukan dunia baru. Pada mulanya adalah rasa kagum, lalu berlanjut dengan invasi pasukan kulit putih ke jantung kekuasaan Indian.

Periode penaklukan ini mendapat perhatian khusus dari Galeano. Pada permulaan ‘Genesis’, proto-Amerika Latin hadir lewat mitos yang terserak pada cerita lisan pelbagai suku Indian. Tapi Edu bagaimanapun mengakui, sejarah tulis benua ini baru benar-benar bermula setelah kedatangan pelaut Eropa.  Read More

eduardo-galeano-1

Saya banyak menimba ilmu dari esai-esai Eduardo Galeano. Edu, panggilan akrab sang penulis besar Uruguay itu, gemar menggabungkan bermacam gaya penulisan di tiap esainya. Dia enteng saja mengoplos fiksi, analisis politik, mitos, serta disiplin jurnalistik, di setiap tulisannya.

Sayang, tak satupun bukunya diterjemahkan buat pembaca Indonesia. Cuma segelintir esainya sempat dialihbahasakan oleh Ronny Agustinus, Halim HD, Mahfud Ikhwan, atau Darmanto Simapea.

Untuk itu, buat memperingati wafatnya Edu pada 13 April 2015 lalu, saya ingin menambah semarak penerjemahan esai-esai Galeano buat pembaca di Tanah Air.

Mulai dari postingan ini, sampai momen tujuh hari meninggalnya Edu nanti, diupayakan dua atau tiga terjemahan esainya – yang rata-rata pendek itu –  saya unggah ke blog ini.

Kalaupun hasilnya kurang memuaskan pembaca, apalagi saya tidak menguasai bahasa Spanyol, setidaknya izinkan saya egois agar blog ini tak lagi berdebu. Dan tentu saja, setiap kekeliruan tafsir atau hal-hal yang mengganjal atas terjemahan tersebut, sepenuhnya tanggung jawab saya.

Sebagai awalan, saya memilih karyanya yang paling personal:  El futbol a sol y sombra (Soccer in Sun and Shadow), terbit 1995. Versi yang saya pakai adalah terbitan ulang 2003 oleh Nation Books, dengan pemutakhiran beberapa esai, yang memuat tulisan tambahan mengenai Piala Dunia 2002.

Edu lebih banyak menulis soal memori negara-bangsa di Amerika Latin (atau negara-negara lain yang mengalami penjajahan). Formula yang mirip sebetulnya tetap dia pakai di buku ‘El Futbol’. Dia mewartakan bermacam penindasan, di balik gemerlap permainan ini ketika industri mengambil alih kendali.

Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 756 other followers